
Dalam Jujutsu Kaisen, Culling Game awalnya diperkenalkan dengan seperangkat aturan ketat yang dibuat oleh Kenjaku untuk memastikan konflik brutal berlangsung dan memaksimalkan produksi energi kutukan, tetapi seiring berjalannya arc Culling Game aturan-aturan ini berubah karena adanya interaksi antara pemain dan sistem permainan itu sendiri serta strategi karakter seperti Hajime Kashimo, Tsumiki Fushiguro, Hiromi Higuruma, dan lainnya yang menggunakan poin sebagai sumber daya untuk menambah aturan baru.
Dalam desain asli Kenjaku membuat delapan aturan dasar yang harus diikuti oleh semua pemain — termasuk kewajiban ikut serta setelah teknik terkutuk mereka aktif dan hukuman penghapusan teknik jika mereka tidak aktif — tetapi aturan ini dapat dimodifikasi melalui penggunaan 100 poin untuk mengajukan penambahan aturan yang disetujui oleh Kogane, sehingga pemain seperti Kashimo dapat menambahkan aturan yang memberi akses informasi tentang pemain lain atau Tsumiki bisa menambahkan aturan yang memungkinkan keluar masuk antar batas koloni, menunjukkan bahwa perubahan aturan bukan hanya hasil dari narasi tetapi juga merupakan bagian dari mekanik Culling Game itu sendiri yang dimaksudkan untuk menciptakan dinamika baru dalam konflik dan memungkinkan taktik baru serta respons terhadap situasi yang muncul di dalam permainan tersebut.
Perubahan tersebut muncul karena Culling Game bukanlah sistem yang statis, melainkan dunia permainan yang menunggu kontribusi pemain untuk menambah kompleksitasnya, serta karakter-karakter yang punya agenda sendiri, sehingga aturan permainan berkembang ketika poin yang terkumpul digunakan untuk menyesuaikan kondisi dan strategi mereka di tengah pertempuran besar yang mempengaruhi tak hanya tokoh utama tetapi jalannya cerita keseluruhan; ini membuat Culling Game terasa hidup dan penuh intrik dibanding hanya sekadar sekumpulan peraturan tetap yang tidak bisa disentuh.***
