Kenapa Frieren, Fern, dan Stark Mengunjungi Pemandian Air Panas di Dataran Kontinen Utara dalam Frieren: Beyond Journey’s End?

Kenapa Frieren, Fern, dan Stark Mengunjungi Pemandian Air Panas di Dataran Kontinen Utara dalam Frieren: Beyond Journey’s End? (frieren-anime.jp)
Kenapa Frieren, Fern, dan Stark Mengunjungi Pemandian Air Panas di Dataran Kontinen Utara dalam Frieren: Beyond Journey’s End? (frieren-anime.jp)

erjalanan Frieren bersama Fern dan Stark ke dataran Kontinen Utara bukan hanya soal petualangan melawan monster atau meraih pencapaian level sihir, tetapi juga tentang momen kebersamaan dan refleksi yang ditonjolkan melalui pengalaman sederhana seperti mengunjungi pemandian air panas. Dalam cerita Frieren: Beyond Journey’s End (dikenal dalam bahasa Jepang sebagai Sousou no Frieren), adegan pemandian air panas terjadi ketika mereka berada di Pegunungan Etwas, sebuah bagian dari Northern Lands (Tanah Utara) yang masih berada dalam kawasan Kontinen Utara.

Alasan utama ketiganya menuju pemandian air panas bermula dari perubahan cuaca saat mereka menempuh perjalanan panjang di daerah bersuhu dingin tersebut. Stark menyadari bahwa suhu semakin hangat ketika mereka sudah dekat dengan sabuk vulkanik, yang biasanya merupakan daerah sumber air panas alami. Ketika Frieren menjelaskan kondisi lingkungan itu, Fern menjadi bersemangat karena berharap bisa menikmati mandi air panas, sesuatu yang jarang mereka dapatkan selama perjalanan panjang mereka.

Namun, ketika mereka tiba di desa yang direncanakan, desa itu telah ditinggalkan selama puluhan tahun dan sumber air panasnya sudah kering. Meskipun demikian, mereka mendengar tentang sebuah pemandian rahasia di dalam pegunungan dari seorang tetua di sebuah kabin. Stark, yang memiliki rasa penasaran dan semangat petualang yang tinggi, bersikeras untuk mencari pemandian tersebut meskipun awalnya Frieren menganggapnya tidak sepadan dengan waktu dan tenaga. Ketiga tokoh itu akhirnya memutuskan untuk menjelajah lebih jauh ke lokasi yang diceritakan sebagai “pemandian rahasia Pegunungan Etwas”.

Perjalanan ke lokasi pemandian air panas ini bukan sekadar tujuan fisik, tetapi juga sebuah momen penting untuk pengembangan karakter dan hubungan mereka. Sepanjang perjalanan, mereka menghadapi tantangan termasuk pertempuran melawan naga berkepala tiga sebelum akhirnya mencapai sumber air panas yang hanya dangkal, cukup untuk berendam kaki. Meskipun tidak sesuai dengan ekspektasi mandi air panas yang sesungguhnya, Stark justru menganggap pengalaman itu berharga karena mereka bisa berkumpul dan melihat pemandangan bersama—mirip dengan “petualangan sia-sia” yang dulu dibicarakan oleh teman mereka, Eisen. Kenangan tentang petualangan kecil seperti ini, menurut Stark, justru menciptakan kenangan abadi bersama sahabat.

Dengan demikian, kunjungan mereka ke pemandian air panas di Kontinen Utara dalam Frieren Beyond Journey’s End bukan hanya bertujuan untuk bersantai, tetapi juga melambangkan pencarian kebersamaan, nostalgia, dan refleksi terhadap makna perjalanan bersama teman-teman seperjuangan dalam perjalanan panjang hidup mereka.***