
Sistem tulisan bahasa Jepang terdiri dari tiga bagian utama: hiragana, katakana, dan kanji. Hiragana dan katakana termasuk dalam kelompok kana, yaitu sistem fonetik di mana setiap karakter mewakili satu suara (mora), sedangkan kanji adalah karakter logografis yang berasal dari aksara Cina dan mewakili arti beserta bunyi tertentu. Ketiga sistem ini sering muncul bersama dalam satu kalimat untuk menunjukkan fungsi yang berbeda‑beda dalam bahasa Jepang, tetapi hiragana biasanya muncul pertama dalam proses belajar pemula sebelum lanjut ke katakana dan kemudian kanji.
1. Hiragana (ひらがな)
- Jenis: Syllabary fonetik yang terdiri dari 46 karakter dasar.
- Fungsi Utama: Digunakan untuk menulis kata‑kata asli Jepang (native words), partikel gramatikal (seperti は, を, に), akhiran kata kerja/adjektiva, dan juga furigana (penanda bacaan kanji).
- Ciri Visual: Bentuk hurufnya lebih lembut dan melengkung dibandingkan katakana.
2. Katakana (カタカナ)
- Jenis: Syllabary fonetik lain yang juga memiliki 46 karakter dasar.
- Fungsi Utama: Dipakai untuk menulis kata serapan dari bahasa asing (loanwords), nama asing, onomatope, istilah teknis/scientific, dan kadang untuk penekanan (mirip italics dalam bahasa Inggris).
- Ciri Visual: Bentuk huruf lebih tajam dan angular dibanding hiragana.
3. Kanji (漢字)
- Jenis: Aksara logografis yang berasal dari karakter Tionghoa.
- Fungsi Utama: Mewakili arti atau konsep tertentu dalam kata, misalnya 水 berarti “air” dan 学 berarti “belajar”.
- Ciri Penggunaan: Kanji sering digunakan untuk menunjukkan inti dari kata (seperti kata benda, akar kata kerja/adjektiva), sementara hiragana melengkapi fungsi gramatikalnya.
- Jumlah: Ada puluhan ribu karakter kanji, tetapi sehari‑hari orang Jepang biasanya memakai lebih dari 2.000–3.000 karakter dasar yang umum digunakan.
