Mengenal Ohanami di Jepang, Tradisi Menikmati Bunga Sakura yang Penuh Makna Budaya

Ohanami
Ohanami (Pinterest)

Ohanami adalah tradisi khas Jepang yang merujuk pada kegiatan menikmati keindahan bunga sakura yang mekar pada musim semi. Kata ini berasal dari bahasa Jepang, di mana “hana” berarti bunga dan “mi” berarti melihat. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi salah satu simbol budaya Jepang yang paling dikenal di dunia. Pada awalnya, kebiasaan menikmati bunga dimulai dari kalangan bangsawan pada periode Nara dan Heian, kemudian menyebar ke masyarakat umum hingga menjadi tradisi nasional yang dirayakan setiap tahun.

Pada musim semi, biasanya antara akhir Maret hingga awal April tergantung wilayah, pohon sakura di berbagai daerah Jepang mulai mekar secara bertahap. Badan meteorologi Jepang bahkan mengumumkan prakiraan mekarnya bunga sakura yang dikenal sebagai “sakura zensen” atau garis depan mekarnya sakura, sehingga masyarakat dapat merencanakan waktu terbaik untuk melakukan ohanami. Kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka menjadi tujuan populer karena memiliki banyak taman dan lokasi indah untuk menikmati sakura.

Selama ohanami, orang-orang biasanya berkumpul di taman, sungai, atau area terbuka di bawah pohon sakura. Mereka membawa tikar, makanan, dan minuman, lalu menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau rekan kerja. Suasana ini sering diisi dengan kegiatan piknik santai, bercengkerama, hingga menikmati hidangan khas musim semi seperti bento, dango, dan minuman hangat. Banyak perusahaan di Jepang juga mengadakan acara ohanami sebagai bentuk kebersamaan antarpegawai.

Lebih dari sekadar menikmati pemandangan, ohanami memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya Jepang. Bunga sakura mekar dengan sangat indah namun hanya bertahan dalam waktu singkat sebelum gugur. Hal ini melambangkan kefanaan hidup, keindahan yang sementara, serta pentingnya menghargai setiap momen dalam kehidupan. Nilai ini sering dikaitkan dengan konsep “mono no aware”, yaitu kesadaran akan keindahan yang muncul karena sifatnya yang tidak abadi.

Selain siang hari, ohanami juga sering dilakukan pada malam hari yang disebut “yozakura”. Lampu-lampu dipasang di sekitar pohon sakura untuk menciptakan suasana romantis dan dramatis. Banyak orang datang pada malam hari untuk merasakan suasana yang berbeda, di mana kelopak sakura terlihat bercahaya di bawah sinar lampu.

Bagi wisatawan asing, ohanami menjadi pengalaman budaya yang sangat berkesan. Selain menikmati keindahan alam, pengunjung juga dapat merasakan langsung cara masyarakat Jepang merayakan musim semi. Namun, ada etika yang perlu diperhatikan, seperti menjaga kebersihan, tidak merusak pohon, dan menghormati pengunjung lain agar suasana tetap nyaman dan harmonis.***